Jumat, 10 Juli 2020

NATALAN (December) Sebuah Film Sederhana dengan pesan Universal yang Kuat

            

Film Pendek

NATALAN (December)


Sutradara : Sidharta Tata

 Durasi : 28 menit

Rumah Produksi : Kebon Studio Film

Sinopsis :

Pulangnya seorang anak laki-laki bernama Resnu yang berjanji akan merayakan misa malam Natal bersama ibunya di Yogyakarta. Kegelisahan dan rindu terhadap ibu menyesaki pikiran Resnu selama perjalanan dari Jakarta bersama istrinya


Pengorbanan sang ibu yang sia-sia

          Natal memang adalah hari spesial bagi kaum beragama Katholik dan Kristen. Hari raya ini merupakan hari dimana para keluarga berkumpul merayakan kebersamaan dan kebahagiaan. Film ini menggambarkan perasaan seorang ibu yang menanti-nantikan kedatangan putra tunggalnya bersama sang istri. Sepanjang film kita diperlihatkan sudut pandang sang Ibu dan sudut pandang Resnu. Perasaan kangen ditunjukan oleh sang ibu yang kita dapat lihat menyiapkan kedatangan Resnu di rumahnya, sampai repot-repot belanja berbagai bahan masakan. Disisi Resnu kita diperlihatkan perang batin yang dialaminya ketika perjalanan dari Jakarta bersama istrinya. Resnu sendiri meskipun terlihat diam tapi kita dapat merasakan konflik yang dia rasakan dimana dia harus memikul beban yang berat dan kekecawaannya terhadap sang Istri. Hal ini dapat dirasakan segala kalangan, bukan hanya kaum Katholik dan Kristen saja. Keputusan untuk memilih destinasi pulang kemana dapat dirasakan seluruh kalangan terutama pada hari raya Idul Fitri juga. Kekecewaan tentunya bisa dirasakan pada Resnu dan Ibunya pada akhir Film, dimana Resnu harus mengikuti keinginan sang Istri dahulu yang ingin pergi ke Solo dan tidak sempat datang ke Jogja menemui ibu Resnu. Dialog terakhir dari sang Ibu benar-benar menyentuh hati dimana sang Ibu berkata “Yowes, ora popo.. aku durung cepak – cepak opo opo kok”. Menandakan kerelaan sang ibu yang sudah terlanjur menyiapkan segala hal untuk kedatangan Resnu dan akhirnya hanya sempat memberi selamat lewat telepon saja dengan perasaan sedih.

 

 

Kesedihan yang diambil dengan indah

          Sinematografi film ini benar-benar indah. Kontras yang bersatu dapat diambil dengan bagus dan membuatnya penuh makna lebih bagi penonton. Komposisi gambar yang menunjukan keindahan – keindahan lokasi film ini, termasuk lokasi pasar yang diambil dengan banyak Close up dan Medium Shot membuat perasaan ramai di pasar. Serta keindahan momen ketika Resnu makan bersama keluarga sang istri kontras dengan meja makan sang ibu yang sepi benar – benar menyentuh hati dengan perasaan sedih.  

Rabu, 08 Juli 2020

Film Pendek Bubar,Jalan. Film Pendek Sederhana dengan Pesan yang luar Biasa

Film Pendek

Bubar,Jalan!


Sutradara : Gerry Fairus Irsan

Genre   : Fiksi

Rumah Produksi : Rumahku Films

 

Membantu bahu-membahu memperjuangkan kemerdekaan.

            Film Pendek dengan premise yang bisa dianggap simpel tetapi memiliki makna yang kuat dan indah. Itulah deskripsi pendek saya mengenai film ini. Meskipun diluar terlihat seperti film biasa namun jika ditonton sampai habis dan secara seksama, maka film ini dapat membuat anda semua terkejut dan tersenyum bahagia. Perasaan gugup yang dirasakan oleh sang pemimpin upacara di awal membuat penonton merasakan kesulitan dan masalah yang ada di film, ditambah dengan masalah yang datang secara berkala dihadapi sang pemimpin upacara, tetapi dia tidak sendirian karena ada banyak temannya yang membantu sang pemimpin upacara dalam kesulitannya. Pesan “Tut Wuri Handayani” benar-benar terasa di film ini, seperti mencerminkan pahlawan-pahlawan di jaman dahulu yang bergotong – royong melawan penjajah, disini sang pemimpin upacara di bantu oleh teman – temannya dalam menghadapi masalah – masalah yang dia hadapi. Sampai pada klimak ketika dia salah memberikan perintah yang seharusnya “siap gerak” menjadi “Bubar,Jalan” Membuat para peserta bubar barisan dan sang upacara berusaha menanggung malu, tetapi secara tak disangka teman – temannya membantu sang pemimpin upacara mengatur peserta dan mengembalikan keadaan upacara kembali seperti semula.

 

 

Ketegangan Ditangkap dengan Bagus.

            Unsur Sinematografi yang bagus tidak kalah pentingnya di sebuah film. Di film ini pun juga tidak jauh beda, dari angle – angle yang bagus sampai tipe shot close up berhasil menangkap perasaan tegang sang pemimpin upacara. Banyaknya Close up yang dipakai memang pantas karena film ini sebagian besar ber pandangan melalui mata sang pemimpin upacara dan bagaimana reaksinya terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi, dan bagaimana dia dapat melihat bantuan-bantuan dari teman-temannya.